Showing posts with label ROH KUDUS. Show all posts
Showing posts with label ROH KUDUS. Show all posts

19 May 2013

PENTAKOSTA : Memaknai Pencurahan Roh Kudus


 “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kis. 2: 1-4)

Setelah Gereja merayakan hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, maka satu peristiwa penting berikutnya yang kita nantikan adalah hari Pentakosta. Istilah “Pentakosta” adalah dari asal kata bahasa Yunani, yaitu “pentekoste” yang artinya hari yang kelima puluh. Karena itu pelaksanaan hari raya Pentakosta yang dirayakan gereja-gereja pada masa sekarang adalah dihitung 50 hari sejak hari raya Paskah.

Hari Pentakosta mengandung  tiga arti. Pertama, hari Pentakosta sebagai hari raya panen gandum, yang mengingatkan bahwa Allah telah memberikan berkat yang berlimpah kepada umatNya. Sebagai bukti pemeliharaan Allah kepada umat-Nya, di hari itulah umat bersyukur kepada Allah. Kedua, Pentakosta adalah hari  yang dirayakan untuk memperingati peristiwa turunnya Taurat yang diwahyukan oleh Allah kepada Musa di gunung Sinai. Dan arti ketiga, hari Pentakosta adalah hari dicurahkannya Roh Kudus (Perjanjian Baru).

Umat Israel di Perjanjian Lama dan umat Kristiani di masa sekarang ini, sama-sama  mempersiapkan dan merayakan  baik Paskah mau pun Pentakosta secara khusus. Walaupun berbeda zaman, umat Israel Perjanjian Lama dan umat Kristiani Perjanjian Baru memiliki kesamaan ‘teologis’ bahwa hari Pentakosta pada intinya adalah sebagai “pencurahan” berkat-berkat Allah baik rohani mau pun jasmani bagi umatNya. Juga sebagai tanda bahwa Allah terus hadir dan menyertai perjalanan hidup umat yang dikasihiNya.

PENTAKOSTA DALAM PERJANJIAN LAMA

Perayaan Pentakosta merujuk kepada beberapa hari penting dalam ibadah bangsa Israel, antara lain : Hari raya 7 minggu (Ul. 16: 9-10); Hari raya menuai (Kel. 23: 16); dan Hari raya hulu hasil. (Bil. 28: 26). Inti dari perayaan-perayaan tersebut adalah untuk memperingati turunnya 10 perintah Tuhan, yaitu Taurat, kemudian juga untuk mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan, berupa tersedianya gandum hasil usaha mengolah ladang atau hasil panen. 

Jadi Pentakosta pada zaman Perjanjian Lama mempunyai arti pencurahan berkat-berkat Allah dalam kehidupan bangsa Israel, yaitu: 1) Berkat rohani, yaitu Firman Allah, yang kita kenal sebagai Kitab Taurat; dan 2) Berkat jasmani, yaitu tersedianya makanan hasil usaha mengolah ladang, antara lain berupa buah bungaran dan gandum.

PENTAKOSTA DALAM PERJANJIAN BARU

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa hari Pentakosta adalah analogi dari  kesinambungan dari karya keselamatan Allah yang telah dinyatakan kepada umat Israel sejak zaman dahulu. Hanya perbedaannya, keselamatan itu kini sudah hadir  dan dinyatakan didalam Kristus, dan terus dilanjutkan dengan dicurahkannya Roh Kudus untuk menyertai kehidupan umatNya di sepanjang zaman.

Bagi umat Kristiani, Pentakosta atau peristiwa dicurahkannya Roh Kudus, adalah juga sebagai  penggenapan nubuat Allah melalui nabi Yoel. (Yoel: 2: 28-32). Menurut Kamus Alkitab,  Roh Kudus adalah  sebagai pelaksana kehendak Allah di bumi, Ia yang melanjutkan dan menerapkan karya keselamatan Yesus.

Di dalam Roh Kudus, Kristus hadir untuk menyertai, memberi kekuatan dan hikmat kepada umat yang percaya; sehingga umat percaya dimampukan untuk hidup kudus dan bersaksi di tengah-tengah dunia ini. Sabda Yesus: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran ….” (Yoh. 14: 16-17)

SIAPAKAH ROH KUDUS?

Roh Kudus adalah:
1.      Suatu pribadi Allah. (Mat. 28: 19; 1 Yoh. 5: 7)
2.      Roh Allah sendiri. (1 Ptr. 4: 14)
3.      Tuhan Yesus.   (2 Kor. 3: 17-18)
4.      Roh Yesus. (Kis. 16: 6-7)

Fungsi/jabatan Roh Kudus
1.      Penolong. (Yoh. 14: 16
2.      Penghibur. (Yoh. 16: 7)
3.      Pemimpin. (Yoh. 16: 13)
4.      Pengajar. (Yoh. 14: 26)

Lambang Roh Kudus
1.      Seperti burung merpati. (Luk. 3: 22)
2.      Seperti tiupan angin. (Kis. 2: 2)
3.      Seperti lidah-lidah api. (Kis. 2:3)
4.      Seperti air. (Yoh. 7: 37-39)

PENTAKOSTA: MENGAPA ROH KUDUS DICURAHKAN?

1.    Bagi kepentingan Gereja:
Hari Raya Pentakosta mengingatkan kita akan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus atas gereja yang masih muda, yaitu kepada sekelompok murid Yesus bersama Bunda Maria, yang dengan tekun, sehati dalam doa bersama di satu ruangan di Yerusalem. Pada saat itulah persekutuan umat percaya mulai terbentuk. Jadi gereja Tuhan mulai hadir di atas muka bumi sejak pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada hari Pentakosta. Roh Kudus akan mengawal perjalanan gereja muda ini untuk memperluas misi Kerajaan Allah dan untuk mempersatukan umat dari berbagai bangsa dari seluruh dunia. Ingat bahwa pada saat Pentakosta, di Yerusalem berdiam berbagai suku bangsa, dari Yahudi, Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Asia, dst.

2.    Bagi kepentingan umat:
a) Supaya kita jangan menjadi yatim piatu, karena ditinggalkan Yesus naik ke Surga, tetapi Dia akan datang kembali. (Yoh. 14: 18). 
Tuhan menganugerahkan dan mencurahkan Roh Kudus agar umat percaya makin diteguhkan, dikuatkan dan dibimbing oleh Roh Kudus di tengah-tengah dunia ini. Banyak murid-murid berada dalam keadaan sedih dan ketakutan  karena saat Yesus wafat, mereka tidak punya pengharapan lagi. Dalam pikiran mereka, Tuhan yang mereka andalkan malah mati.  Tetapi sesuai dengan janji Yesus sendiri bahwa Dia akan pergi kepada Bapa dan memberi kepada kita seorang Penolong yang lain yaitu Roh Kudus. Banyak juga umat pengikut Kristus hidup dalam keterpurukan dikarenakan menghadapi kebuntuan dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Dengan dicurahkannya Roh Kudus, maka Yesus ingin agar kita memiliki iman yang mengalirkan kuasa untuk menang.

b) Supaya berani mewartakan Injil dan bersaksi tentang Kristus. (Kis. 4: 31, Kis. 8: 25). Sebelum Yesus terangkat ke Surga, murid-murid (misalnya Petrus) sering bersembunyi, menghindar atau bahkan melarikan diri. Tetapi ketika Petrus mengalami pencurahan Roh Kudus, maka terjadi perubahan yang luar biasa. Petrus menjadi berani memberitakan Injil bahkan menempuh segala resikonya (diancam, dianiaya, dan dipenjara).

c) Menjadikan umat yang diperbaharui. (Tit. 3: 5; Yoh. 4: 24). Banyak orang beranggapan bahwa manusia tidak bisa diubah. Segala sesuatu sudah dibentuk ‘dari sononya.’ Ini perbedaan yang mendasar dengan umat beriman, bahwa di dalam Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Kuncinya adalah percaya bahwa  saat Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang, maka bisa terjadi perubahan-perubahan yang signifikan dalam hidupnya. Misalnya, dulu pemarah, sekarang jadi peramah; dulu penjahat, sekarang jadi penjahit; dulu senang segala yang berbau alkohol, sekarang jadi senang membaca Alkitab. Banyak sekali kisah-kisah kesaksian orang yang diubahkan hidupnya setelah mengalami Roh Kudus. Ada yang tadinya keras hati tidak percaya Tuhan, hidup dalam kebencian, tidak mau mengampuni, terikat oleh dosa, berpaling, kepada ilah-ilah lain, sekarang mereka diubah bahkan dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil.

d) Membantu kita saat berdoa.  (Rm. 8: 26). Banyak orang yang salah tafsir, bahwa berdoa itu harus dengan untaian kata-kata yang indah dan panjang serta sangat lengkap. Tuhan tahu keterbatasan kita, bahwa tidak semua orang pandai berdoa. Tetapi dengan hadirnya Roh Kudus, Ia membantu kita dalam kelemahan kita,  dan menolong kita untuk menyampaikan keluh kesah kita kepada Allah.

e) Supaya hidup dapat saling mengampuni, tidak menyimpan kepahitan. (Kis. 7: 54-60). Hidup di dalam komunitas kristiani dan saling melayani, tidak menjamin tidak timbul masalah dan konflik.

f) Supaya hidup kita menghasilkan buah Roh. (Gal. 5: 22-23). Ukuran kedewasaan iman seseorang bukan diukur dari berapa usianya dan berapa lama ia mengenal atau bekerja melayani Tuhan. Tetapi patokannya adalah, apa yang dihasilkan orang tersebut saat sudah memiliki komitmen ikut dan melayani Tuhan sekian lama. Apakah kasih, sukacita, damai sejahtera dll, ada dan kentara dalam relasinya dengan sesama? Itulah buah yang harus dihasilkan ketika seseorang berjalan sebagai murid Tuhan Yesus.

Semoga dengan memahami makna Pentakosta, kita semakin memahami maknanya, dan semakin dipersiapkan saat merayakannya kelak,  untuk menerima anugerah yang sama seperti yang diterima murid-murid Tuhan saat mereka berkumpul di sebuah ruangan di Yerusalem, yaitu dicurahkannya Roh Kudus dan karunia-karuniaNya atas kita semua.

Paus Yohanes XXIII dalam Konsili Vatikan II, mengajak seluruh umat Katolik untuk berdoa, supaya Roh Kudus membarui Gereja. “Perbaharui ya Tuhan, dalam masa kami ini, keajaiban-keajaiban-Mu seperti suatu Pentakosta Baru.”

Beliau menghendaki agar kita semakin  terbuka terhadap Roh Kudus dan karunia- karuniaNya. Pencurahan Roh Kudus barulah tahap awal yang membentuk kehidupan umat beriman. Di dalam perkembangan selanjutnya, maka ciri-ciri orang yang mendapat karunia istimewa Roh Kudus adalah bertumbuh menjadi rendah hati, memiliki kepedulian, dan rela berkorban. Dengan karunia yang diberikan Tuhan tsb, mereka juga senantiasa mau melayani Gereja dan umat  dengan semangat pengabdian yang tanpa pamrih, tunduk dan taat pada hierarki, serta senantiasa mau memelihara kesatuan dan kerukunan dengan semua kelompok pelayanan mau pun umat beriman dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. 



PENTAKOSTA : Memahami Tujuh Karunia Roh Kudus


 “Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah di dalamnya Api cinta-Mu. Utuslah Roh-Mu, maka semua akan dijadikan baru….

ROH KUDUS: PRIBADI ALLAH YANG NYATA SEKALIGUS MISTERIUS

Mungkin banyak umat Katolik dapat menjelaskan dengan baik tentang dua Pribadi dalam Trinitas, yaitu Allah Bapa dan Allah Putera. Namun, tentang Allah Roh Kudus, ada banyak orang yang mungkin mengalami kesulitan untuk menjelaskannya. Roh Kudus sering hanya dihubungkan dengan kelompok-kelompok tertentu saja, seperti kelompok karismatik, karena di kelompok ini manifestasi Roh Kudus dianggap lebih nyata terjadi. Sementara sejumlah umat yang lain sering memandang Roh Kudus sebagai Pribadi yang  misterius dan tidak dapat dimengerti. Namun, sebenarnya semua umat beriman yang telah dibaptis telah mempunyai Roh Kudus dan ketujuh karunia Roh Kudus. Yang menjadi masalah adalah, apakah karunia Roh Kudus ini disadari dan mewarnai kehidupan umat beriman, sehingga dapat dikatakan bahwa Roh Kudus sungguh nyata di dalam kehidupan mereka.

Dalam menyambut Pentakosta, yaitu perayaan turunnya Roh Kudus atas para rasul, mari bersama merenungkan ke- tujuh karunia Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Yesaya 11:2-3 ” (1) kebijaksanaan (2) pengertian, (3) nasihat  (4) keperkasaan, (5) kesalehan, yaitu kesenangannya adalah takut akan Tuhan/ piety, (6) pengenalan akan Tuhan, (7) takut akan Tuhan”. Harapannya adalah, agar dengan merenungkan bahwa karunia Roh Kudus ini telah diberikan kepada kita pada saat Pembaptisan dan dikuatkan dalam Krisma, kita dapat bekerja sama dengan ketujuh karunia Roh Kudus ini, agar membawa buah-buahnya dalam kehidupan kita.

HUBUNGAN ANTARA KEBAJIKAN ILAHI, KEBAJIKAN POKOK DAN KARUNIA ROH KUDUS

Untuk lebih memahami tentang karunia Roh Kudus, maka kita perlu melihatnya dalam hubungannya dengan kebajikan ilahi maupun dalam hubungannya dengan kebajikan pokok. Kebajikan pokok adalah kebajikan manusia, yang merupakan pokok kehidupan moral, yang terdiri dari: kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri. Kebijaksanaan membuat seseorang memahami tentang kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya (KGK, 1835); keadilan memberikan apa yang menjadi hak Allah dan sesama (KGK, 1836); keberanian, mengejar kebaikan dengan teguh dan tidak takut menghadapi kesulitan (KGK, 1837); penguasaan diri dapat mengekang kenikmatan jasmani dan melakukannnya dalam batas-batas kewajaran (KGK, 1838). Untuk mencapai kesempurnaan dalam kebajikan ini, diperlukan latihan dan kerja keras. Namun, latihan dan kerja keras ini menjadi lebih mudah dan memberikan hasil yang lebih sempurna, kalau kita membiarkan Tuhan mengubah kita, baik melalui kebajikan ilahi maupun melalui karunia-karunia Roh Kudus.

Kebajikan-kebajikan manusia di atas berakar dalam kebajikan ilahi. Kebajikan ilahi, terdiri dari iman, pengharapan dan kasih. Kebajikan ilahi memungkinkan seseorang untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi (lih. 2 Ptr 1:4), karena Allah menjadi asal, sebab, dan tujuan (lih. KGK, 1812). Ini adalah cara yang dilakukan Allah untuk ‘membekali’  manusia agar manusia dapat mencapai tujuan akhir, Sorga, yang melebihi kodrat manusia. Iman memberikan penerangan kepada akal budi kita dengan kebenaran ilahi; pengharapan mengarahkan keinginan kita untuk mencapai tujuan akhir; kasih mempersatukan keinginan kita dengan Tuhan, yang menjadi tujuan akhir dan sasaran.

Dengan kata lain, kebajikan ilahi memungkinkan kita untuk mengambil bagian dalam kehidupan Allah yang tidak mungkin dicapai oleh kebajikan moral. Kebajikan moral dapat mengarahkan seseorang untuk membentuk masyarakat yang baik, namun tidak dapat membuat seseorang mengambil bagian dalam kehidupan Allah, karena kehidupan Allah adalah di luar kodrat manusia. Dengan kebajikan ilahi, Tuhan sendiri menanamkan iman, pengharapan dan kasih dalam diri manusia, sehingga manusia dapat mencapai Sorga. Dengan perkataan lain, kebajikan moral mempunyai materai manusia, namun kebajikan ilahi mempunyai materai Allah sendiri.

Namun demikian, ada begitu banyak hal terjadi di dalam kehidupan kita, baik penderitaan, pencobaan dan berbagai macam kemewahan dunia ini yang dapat menjauhkan kita dari tujuan akhir, yaitu Sorga. Ditambah lagi dengan kelemahan-kelemahan kita karena dosa asal. Oleh karena itu, walaupun Tuhan telah memberikan kebajikan ilahi serta rahmat pengudusan, yang menjadi modal utama dan syarat utama untuk mencapai keselamatan, manusia memerlukan Penolong lain, yaitu Roh Kudus, sehingga manusia dapat bertahan dalam kehidupan ini untuk mencapai Sorga.[2] Maka  Roh Kudus diperlukan oleh kita manusia, bukan hanya untuk bertahan, namun untuk selanjutnya membawa kita mencapai kesempurnaan kehidupan kristiani. Inilah yang dijanjikan oleh Kristus, ketika Ia mengatakan akan mengutus Roh Kudus, yang akan terus menyertai seluruh umat beriman (lih. Yoh 14:16). Kristus memberikan Roh Kudus, yaitu Roh-Nya sendiri yang akan tinggal di tengah- tengah kita semua yang percaya kepada-Nya. Roh Kudus yang tinggal di dalam hati manusia mewarnai dan mengubah jiwa manusia menjadi semakin bertumbuh dalam kekudusan, sehingga menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Roh Kudus memberikan inspirasi kepada umat manusia lewat karunia-karunia Roh Kudus. Nabi Yesaya telah menulis tentang ketujuh karunia Roh Kudus tersebut. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Ketujuh karunia Roh Kudus yang diberi kepada orang Kristen adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan rasa takut kepada Allah.” (KGK, 1845). Mengapa umat Allah memerlukan tujuh karunia Roh Kudus? Jawabannya sederhana, yaitu karena karunia Roh Kudus ini diperlukan supaya kita dapat mencapai tujuan akhir kita, yaitu Sorga. Karena Sorga yang ilahi itu berada di luar kodrat manusia, maka kita memerlukan bantuan ilahi, yaitu Roh Kudus, untuk mencapai tujuan akhir ini. Sama seperti bayi tidak bisa pergi ke suatu tempat tanpa bantuan orang tuanya, maka kita tidak dapat mencapai Sorga tanpa bantuan dari Allah sendiri, yaitu Roh Kudus.

St. Thomas Aquinas menjelaskan lebih lanjut bahwa akal budi dan tentu saja kebajikan ilahi (iman, pengarapan dan kasih) diperlukan untuk mencapai tujuan akhir. Namun, karunia Roh Kudus inilah yang membuat jiwa kita siap  mengikuti gerakan rahmat Allah.[4] Dapat diibaratkan bahwa karunia Roh Kudus merupakan layar dari sebuah kapal, yang memungkinkan kapal bergerak di laut lepas menuju tujuan akhir tanpa adanya usaha yang begitu besar dari awak kapal. Dengan layar yang berkembang secara bebas, maka kapal tersebut dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat.

Jika dikatakan bahwa kebajikan moral mempunyai materai manusia, maka dapat pula dikatakan bahwa karunia-karunia Roh Kudus mempunyai materai Allah. Rahmat pengudusan dan kebajikan ilahi memberikan gambaran akan Kristus. Ibaratnya, kebajikan moral adalah seumpama kuas di tangan manusia. Manusia dengan tangannya sendiri dapat menorehkan garis atau coretan untuk membentuk lukisan, namun tidaklah terlalu sempurna. Namun dengan karunia Roh Kudus, coretan tersebut menjadi sempurna. Sebab di sini kebajikan moral yang diumpamakan sebagai kuas, ada di tangan Allah, dengan  karunia Roh Kudus-Nya, sehingga kuas itu dapat menorehkan garis atau coretan untuk melukiskan gambar Yesus dengan sempurna. Inilah sebabnya, karunia Roh Kudus diperlukan oleh umat beriman dalam mencapai kesempurnaan kehidupan Kristiani.

TENTANG KARUNIA ROH KUDUS SECARA UMUM

Seperti yang telah disebutkan dalam Kitab Yesaya 11:2-3, tujuh karunia Roh Kudus adalahkebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, rasa takut akan Allah, dan kesalehan -yaitu yang kesukaannya adalah takut akan Allah (lih. Yes 11:2-3). Empat dari karunia ini adalah karunia yang menyempurnakan akal budi, yaitu: kebijaksanaan, pengertian, nasihat dan pengenalan akan Allah. Pengertian memberikan kedalaman pemahaman akan kebenaran Allah dan ketiga hal lainnya  memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Karunia kebijaksanaan membantu kita menimbang hal-hal yang berkaitan dengan Allah; pengenalan akan Allah membantu kita menimbang ataupun menilai hal- hal sehubungan dengan ciptaan; nasihat mengarahkan tindakan kita. Sedangkan tiga dari karunia ini adalah karunia yang menopang keinginan (will)  dan indera (senses) kita untuk menginginkan segala yang baik. Kesempurnaan keinginan (will) ditopang dengan kesalehan,  membimbing kita dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama. Sedangkan untuk menopang indera (senses),  Roh Kudus memberikan keperkasaan dan rasa takut akan Tuhan. Keperkasaan memberikan kekuatan sehingga kita tidak menghindar dari kesulitan untuk mencapai kesempurnaan rohani; sedangkan rasa takut akan Tuhan memampukan indera kita untuk mengusahakan hubungan yang seharusnya antara Tuhan Sang Pencipta dan kita ciptaan-Nya, serta membatasi keinginan kita akan hal-hal yang bersifat duniawi.

Di antara semua karunia Roh Kudus, karunia yang tertinggi adalah kebijaksanaan. Kalau kita melihat tingkatannya, maka urutan karunia dari yang paling tinggi sampai yang paling mendasar adalah: kebijaksanaan, pengertian, pengenalan, nasihat, kesalehan, keperkasaan dan takut akan Tuhan. Sekarang, marilah kita lihat karunia-karunia ini satu persatu, mulai dari yang paling mendasar.

TENTANG TUJUH KARUNIA ROH KUDUS

1. Karunia takut akan Tuhan (fear of the Lord)
Ada ketakutan yang baik dan ada ketakutan yang tidak baik. Ketakutan yang bersumber pada keduniaan atau penderitaan fisik di atas segalanya tidaklah baik. Ketakutan seperti ini adalah ketakutan kehilangan kenyamanan fisik dan kenikmatan dunia melebihi ketakutan akan kehilangan iman. Jika seseorang menganggap iman dan Gereja  sebagai penghalang baginya, ia siap meninggalkan iman maupun Gereja supaya kenyamanan akan hal-hal duniawi dapat dipertahankan olehnya. Ketakutan seperti ini bukanlah ketakutan yang baik, sebab bahkan dapat membawanya kepada penderitaan abadi di neraka, sebab ia rela meninggalkan iman akan Kristus yang sudah diketahuinya dapat membawanya kepada kehidupan kekal. Namun demikian, ada ketakutan yang baik, yaitu takut akan Tuhan (fear of the Lord). St. Teresa mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan obat bagi manusia untuk menghindari dosa, yaitu takut akan Tuhan dan kasih. Takut akan Tuhan adalah takut akan penghukuman Tuhan, takut bahwa dirinya akan terpisah dari Tuhan untuk selamanya di neraka. Ketakutan seperti ini disebut “servile fear“. Ketakutan pada tahap ini membantu seseorang untuk membawanya kepada pertobatan awal. Namun, bukankah Rasul Yohanes mengatakan bahwa dalam kasih tidak ada ketakutan? (lih. 1Yoh 4:18) Ya, dengan bertumbuhnya iman, maka takut akan penghukuman Tuhan akan berubah menjadi takut menyedihkan hati Tuhan, yang didasarkan atas kasih. Inilah yang disebut takut karena kasih (filial fear), seperti anak yang takut menyedihkan hati bapanya.

Karunia Roh Kudus ini menyadarkan bahwa satu-satunya yang memisahkan seseorang dari Tuhan adalah dosa. Oleh karena itu, manifestasi dari karunia ini adalah kesedihan karena dosa, yang diikuti dengan kebencian akan dosa. Orang yang membenci dosa tidak hanya menghindari dosa berat, namun juga ia tidak mau melakukan dosa ringan. Ia akan lari dari peluang dan kondisi yang dapat membuat dia berbuat dosa. Ia akan sadar bahwa meskipun ia sudah berusaha menghindari dosa, ia kerap tetap jatuh di dalam dosa, termasuk dosa ringan. Dengan demikian, ia menjadi sadar akan dirinya yang tidak berarti apa-apa, dan pada saat yang bersamaan ia sadar bahwa Tuhan adalah segalanya. Sikap seperti inilah yang  menuntunnya kepada kerendahan hati. Jika kita belajar dari kesalahan kita bahwa yang sering memisahkan diri kita dari Tuhan adalah godaan duniawi, maka kita belajar untuk membatasi diri dari kenikmatan duniawi. Inilah yang disebut sebagai kebajikan penguasaan diri (temperance). Marilah kita menilik ke dalam hati kita, sudahkah kita memiliki rasa takut akan Tuhan: sudahkah kita membenci dosa, dan berusaha untuk menjauhinya.

2. Karunia keperkasaan (fortitude)
Kebajikan keperkasaan adalah keberanian untuk mengejar yang baik dan tidak takut dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghalangi tercapainya kebaikan tersebut. Karunia keperkasaan dari Roh Kudus adalah keberanian untuk mencapai misi yang diberikan oleh Tuhan, bukan berdasarkan pada kemampuan diri sendiri, namun bersandar pada kekuatan Tuhan. Dengan kebajikan keperkasaan, kita dapat berkata seperti  yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp 4:13). Juga, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom 8:31) Melalui karunia ini, Roh Kudus memberikan kekuatan kepada kita untuk yakin, percaya dan bersandar kepada kekuatan Allah. Allah dapat menggunakan kita yang terbatas dalam banyak hal untuk memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Sebab Allah memilih orang-orang yang bodoh, yang lemah, agar kemuliaan Allah dapat semakin dinyatakan, dan agar tidak ada orang yang bermegah di hadapan-Nya (lih. 1Kor 1:27-29).

Orang yang dipenuhi dengan karunia keperkasaan bukannya tidak pernah merasa takut, namun mereka dapat mengatasi ketakutannya karena mereka percaya pada Allah yang dapat melakukan segalanya. Bunda Teresa yang berani melaksanakan kehendak Allah untuk melayani orang-orang yang miskin di tengah-tengah pelayanannya sebagai biarawati yang menjadi guru, adalah contoh bagaimana karunia keperkasaan menjadi nyata. Dan dalam derajat yang sempurna, karunia Roh Kudus ini dinyatakan oleh para martir. Sekilas mungkin saja kita berpikir, “tetapi aku tidak mempunyai tingkat keberanian seperti para martir dan pan para orang kudus itu…”. Tetapi, benarkah bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mempunyai kesempatan untuk menerapkan karunia keperkasaan ini?

Dalam keseharian kita, kita juga dituntut untuk mati terhadap keinginan diri sendiri, dan berjuang dalam kekudusan. Dan orang yang secara sadar berjuang dalam kekudusan akan merasakan bahwa ini adalah tantangan yang sungguh berat. Keinginan dan perjuangan untuk hidup dalam kekudusan adalah karunia Roh Kudus. Roh Kudus memberikan kekuatan sehingga dapat memberikan keberanian untuk terus melakukan karya kerasulan walaupun ada banyak kekurangan, keberanian untuk menanggung sakit penyakit dan penderitaan, keberanian untuk mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri, ataupun keberanian untuk mewartakan Kristus dan Gereja-Nya di tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan pandangan relativisme dan keacuhan terhadap hal- hal rohani. Karunia keperkasaan diperoleh dengan kerendahan hati, yaitu dengan bertekun dalam doa dan sakramen. Sakramen Penguatan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi tentara Kristus; Sakramen Ekaristi memberikan makanan spiritual yang akan menguatkan kita dalam perjuangan rohani; Sakramen Tobat memberikan kekuatan pada kita untuk melawan godaan; Sakramen Perminyakan memberikan kekuatan kepada kita dalam perlawanan terakhir.

3. Karunia kesalehan (piety)
Karunia kesalehan adalah karunia Roh Kudus yang membentuk hubungan kita dengan Allah seperti hubungan seorang anak dengan bapanya; dan pada saat yang bersamaan, membentuk hubungan persaudaraan yang baik dengan sesama. Karunia ini menyempurnakan kebajikan keadilan, yaitu keadilan kepada Allah – yang diwujudkan dengan agama – dan keadilan kepada sesama. Karunia kesalehan memberikan kita kepercayaan kepada Allah yang penuh kasih, sama seperti seorang anak percaya kepada bapanya. Hal ini memungkinkan karena kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah, sehingga kita dapat berseru “Abba, Bapa!” (lih. Rom 8:15). Dengan hubungan kasih seperti ini, seseorang dapat mengerjakan apa yang diminta oleh Allah dengan segera, karena percaya bahwa Allah mengetahui yang terbaik. Dalam doa, orang ini menaruh kepercayaan yang besar kepada Allah, karena percaya bahwa Allah memberikan yang terbaik, sama seperti seorang bapa akan memberikan yang terbaik bagi anak- anaknya. St. Theresia Kanak-kanak Yesus mempunyai karunia ini secara nyata, karena dia menempatkan dirinya sebagai seorang anak yang mau melakukan apa saja untuk Bapa-nya. Ia mengumpamakan kehidupan rohaninya sebagai seseorang yang naik dengan liftmenuju Tuhan, yaitu dengan tangan Tuhan sendiri yang menopangnya dan mengangkatnya. Kuncinya sederhana: melakukan hal-hal yang kecil dan sederhana, dengan kasih yang besar kepada Allah.

Orang-orang yang menerima karunia kesalehan akan memberikan penghormatan kepada Bunda Maria, para malaikat, para kudus, Gereja, sakramen, karena mereka semua itu berkaitan dengan Allah. Juga, orang-orang yang diberi karunia ini, juga akan membaca Kitab Suci dengan penuh hormat dan kasih, karena Kitab Suci merupakan surat cinta dari Allah kepada manusia. Dalam hubungannya dengan sesama, karunia kesalehan dapat menempatkan sesama sebagai saudara/i di dalam Kristus, karena Allah mengasihi seluruh umat manusia dan menginginkan agar mereka juga mendapatkan keselamatan. Mereka yang saleh ini akan menjadi lebih bermurah hati kepada sesama. Dan dalam derajat yang lebih tinggi, mereka bersedia memberikan dirinya demi kebaikan bersama.

4. Karunia nasihat (Counsel)
Mazmur 32:8 mengatakan, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” Allah menunjukkan jalan kepada kita melalui karunia Roh Kudus-Nya, yaitu karunia nasihat. Karunia adi kodrati ini adalah karunia yang memberikan petunjuk jalan mana yang harus ditempuh untuk dapat memberikan kemuliaan yang lebih besar bagi nama Tuhan. Karunia nasihat menerangi kebajikan kebijaksanaan (prudence), agar kita dapat memutuskan dengan baik, pada waktu, tempat dan keadaan tertentu. Dengan demikian, karunia nasihat senantiasa menerangi jalan orang- orang yang dengan sungguh- sungguh mendengarkan Roh Kudus.

Yang terpenting sehubungan dengan karunia nasihat adalah kesediaan dan kerjasama kita dalam melaksanakan dorongan Roh Kudus. Kita tidak boleh menempatkan penghalang sehingga Roh Kudus tidak dapat bekerja secara bebas. Penghalang karunia Roh Kudus ini dapat berasal dari diri kita sendiri, seperti keterikatan pada pertimbangan kita sendiri, tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dan juga kurangnya kerendahan hati. Kita perlu belajar dari teladan Bunda Maria yang memiliki kesediaan penuh untuk bekerjasama mewujudkan karya Allah dalam hidupnya, dengan mengatakan, “Terjadilah padaku, Tuhan, menurut perkataan-Mu” (lih. Luk 1:38).

Dengan terus membiarkan Roh Kudus memimpin  jalan kita secara bebas, kita terus dimurnikan oleh Roh Kudus, sehingga lama kelamaan, kita mempunyai intuisi akan jalan mana yang harus diambil sesuai dengan apa yang diinginkan Allah. Karunia ini diperlukan bagi orang-orang yang memberikan bimbingan rohani, sehingga mereka dapat memberikan petunjuk sesuai dengan apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan mereka.

5. Karunia pengenalan (knowledge)
Karunia pengenalan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menilai ciptaan dengan semestinya dan melihat kaitannya dengan Sang Pencipta. Kebijaksanaan 13:1-3 menggambarkan karunia ini dengan indahnya: “Sungguh tolol karena kodratnya semua orang yang tidak mengenal Allah sama sekali; dan mereka tidak mampu mengenal Dia yang ada dari barang-barang yang kelihatan, dan walaupun berhadapan dengan pekerjaan-Nya mereka tidak mengenal Senimannya. Sebaliknya, mereka mengganggap sebagai allah yang menguasai jagat raya ialah api atau angin ataupun udara kencang, lagipula lingkaran bintang-bintang atau air yang bergelora ataupun penerang-penerang yang ada di langit. Jika dengan menikmati keindahannya mereka sampai menganggapnya allah, maka seharusnya mereka mengerti betapa lebih mulianya Penguasa kesemuanya itu. Sebab Bapa dari keindahan itulah yang menciptakannya.” Dengan kata lain, karunia pengenalan akan Allah memberikan kepada kita, pengertian akan makna dari ciptaan dengan mengacu kepada Sang Pencipta, yaitu Tuhan.

Dengan karunia pengenalan akan Allah, seseorang dapat memberikan makna akan hal-hal sederhana yang dilakukannya setiap hari, dengan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu sebagai jalan pengudusannya. Artinya, semua pekerjaan, jika dilakukan dengan jujur, bersungguh-sungguh dan dengan motivasi untuk mengasihi Allah, dapat menjadi cara bagi kita untuk bertumbuh dalam kekudusan. Semua hal  di dunia ini dapat dilihat dengan kaca mata Allah, dan dihargai sebagaimana Allah menghargai tiap-tiap ciptaan-Nya itu.

6. Karunia pengertian (understanding)
Karunia pengertian adalah adalah karunia yang memungkinkan seseorang untuk mengerti kedalaman misteri iman.  Karunia pengertian adalah seumpama sinar yang menerangi akal budi kita, sehingga kita dapat mengerti apa yang sebenarnya diajarkan oleh Kristus dan misteri iman seperti apakah yang harus kita percayai. Raja Daud memahami karunia ini, sehingga dengan penuh pengharapan ia berkata, “Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.” (Mzm 119:34) Karunia pengertian memberikan kedalaman pengertian akan Kitab Suci, kehidupan rahmat, pertumbuhan dalam sakramen-sakramen, dan juga kejelasan akan tujuan akhir kita, yaitu Surga.

Karunia pengertian ini memberikan gambaran yang jelas akan tujuan akhir kita yaitu Surga. Dengan karunia ini, kita dapat terdorong untuk mengarahkan seluruh hidup kita ke Surga. Kita akan mengusahakan segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita agar selaras dengan kehendak dan perintah Tuhan. Kita akan terdorong untuk terus mencari dan memahami apa yang menjadi kehendak-Nya dalam hidup kita dan berjuang dengan sekuat tenaga untuk melaksanakannya.

7. Karunia kebijaksanaan (wisdom)
Karunia kebijaksanaan adalah karunia yang memungkinkan manusia untuk mengalami pengetahuan akan Tuhan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Karunia kebijaksanaan ini berhubungan erat dengan kasih. Karunia ini bukan hanya merupakan pengetahuan belaka, namun merupakan satu pengalaman ilahi yang diperoleh melalui kasih. Roh Kudus mengisi jiwa orang- orang yang sederhana dan penuh kasih dengan karunia ini, sehingga seolah-olah mereka memakai kacamata ilahi dalam melihat segalanya. Seseorang dapat menjelaskan tentang rasa buah durian dengan berbagai macam kata dan susunan kalimat. Namun, tidak ada yang dapat menjelaskan dengan baik rasa buah durian selain dengan mencobanya sendiri. Atau sama seperti seorang ibu yang mengenal anaknya bukan dari buku, namun dari kasihnya kepada anaknya. Demikian juga, karunia ini akan menjadi semakin nyata dalam kehidupan seseorang, sesuai dengan besarnya kasih yang dinyatakan olehnya, kepada Tuhan. Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa adalah lebih baik bagi kita untuk hanya mengenal  sesuatu (ciptaan) yang lebih rendah dari kita daripada mencintainya, tapi adalah lebih baik bagi kita untuk mencintai sesuatu yang lebih tinggi dari kita daripada hanya mengenalnya. Karena Tuhan lebih tinggi secara tak terbatas daripada diri kita, maka adalah lebih baik kita untuk memperoleh pengetahuan akan Tuhan dengan cara mengasihi-Nya secara tak terbatas. Dengan demikian, seseorang dapat mengalami kemanisan akan Tuhan.

Karena karunia kebijaksanaan memungkinkan seseorang melihat segala sesuatunya dari kacamata Tuhan, maka orang ini dapat menimbang segala sesuatunya dengan tepat, mempunyai perspektif yang jelas akan kehidupan, melihat segala yang terjadi dalam kehidupannya dengan baik tanpa adanya kepahitan, dan dapat bersukacita di dalam penderitaan. Semua yang terjadi dilihat secara jelas dalam kaitannya dengan Tuhan. Karunia ini memungkinkan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari dengan pandangan terfokus kepada Tuhan. Karunia ini membuat seseorang dapat mencerminkan Kristus, seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (1Kor 3:8)


(sumber : www.katolisitas.org)

17 May 2013

PENTAKOSTA : Roh Kudus dan Bunda Maria


Bulan Mei ini adalah bulan Maria dan bulan ini diwarnai dengan cukup banyak peringatan/perayaan yang menyangkut Bunda Maria: Pada tanggal 8 Mei beberapa tarekat religius (termasuk SCJ) memperingati ‘Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat’, pada tanggal 13 Mei Gereja memperingati ‘Santa Perawan Maria dari Fatima’ dan pada hari yang sama beberapa tarekat religius memperingati ‘Maria, Bunda Pembantu’ atau ‘Santa Perawan Maria Pendamping yang Baik, tanggal 23 Mei bagi Suster-suster Puteri Maria Penolong Umat Kristiani (FMA) dan para anggota Serikat Salesian Don Bosco (SDB) adalah ‘Hari Raya Santa Perawan Maria Pertolongan orang Kristen’. Pada tanggal 31 Mei tiga tarekat religius, yaitu Frater-frater Bunda Hati Kudus (BHK), Puteri Bunda Hati Kudus (FDNSC) dan Misionaris Hati Kudus (MSC) merayakan ‘Hari Raya Bunda Hati Kudus’. Pada hari yang sama Gereja menutup bulan Maria ini dengan ‘Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet’, sebuah pesta khusus juga bagi para anggota Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda (FIC).

Bagi umat awam bulan Mei ini ditandai juga dengan berbagai bentuk kegiatan devosional kepada Bunda Maria yang meningkat, misalnya kegiatan doa rosario bersama dalam lingkungan-lingkungan. Ada pertemuan lingkungan yang diikuti cukup banyak peserta, ada pula yang pas-pasan saja, namun semua itu sungguh dapat memperkuat koinonia atau persekutuan dalam umat.

Kita ketahui, bahwa pada hari Pentakosta pertama Maria juga hadir di tengah-tengah para rasul, karena dia sudah ada bersama para rasul di “ruang atas” (senakel) bertekun dengan sehati-sejiwa dalam doa bersama menanti-nantikan kedatangan Roh Kudus (lihat Kis 1:14). Di lain pihak, dalam satu peristiwa Maria yang penting, yaitu kunjungannya kepada Elisabet, Roh Kudus terasa memegang peran sangat penting. Nah, tulisan ini mencoba menguraikan hubungan istimewa antara dua pribadi ini: Roh Kudus dan Bunda Maria. Di sini kita mengambil beberapa “peristiwa Maria” sebagai titik tolak. Setiap kali kita berdoa “Salam Maria”, kita katakan kepada Santa Perawan Maria: “Terpujilah engkau di antara wanita” (Luk 1:42). Sesungguhnya memang siapa lagi yang lebih terberkati daripada dia yang dipilih menjadi Bunda Allah?

“Allah”, tulis Santo Bonaventura, “dapat membuat dunia menjadi lebih besar, dapat memperluas surga, tetapi Dia tidak dapat membuat yang lebih besar daripada Bunda Allah”. Berhubungan dengan pilihan ilahi ini adalah relasi istimewa antara Santa Perawan Maria dan Roh Kudus.

DIKANDUNGNYA MARIA TANPA NODA DOSA

Relasi istimewa ini mulai pada awal keberadaan Maria. Gereja mengajar, bahwa Maria dikandung tanpa dosa, artinya bahwa dia menerima dari Allah suatu privilese unik “dikandung tanpa dosa-asal”, dalam rangka kebaikan-kebaikan dari sang Penebus yang akan dilahirkannya. Dogma “Dikandung tanpa dosa” (Latin: conceptio immaculata; Inggris: Immaculate Conception) berarti, bahwa sejak saat dikandung dalam rahim ibunya Maria dipenuhi rahmat oleh Allah. Tidak seperti manusia biasa, Maria sudah dipenuhi rahmat sejak dari instansi pertama hidupnya sebagai manusia. Jadi malaikat agung Gabriel benar ketika menyapanya “Salam, hai engkau yang dikaruniai” (Yunani: kekharitomené, lihat Luk 1:28; “penuh rahmat” / Latin: gratia plena). Harus kita catat, bahwa terkandungnya Maria tanpa dosa – seperti juga karya pengudusan lainnya – adalah karya Roh Kudus.

Dikandungnya tanpa dosa merupakan rahmat besar untuk menyiapkan Maria sebagai Bunda Penebus. Allah menghendaki agar Maria menjadi Bunda Putera-Nya melalui persetujuannya sendiri, dan persetujuannya ini harus merupakan persetujuan total tanpa reserve. Dosa-asal dapat menciutkan totalitas dari persetujuan tersebut. Mengapa? Karena dosa-asal, seperti semua dosa, adalah “Tidak” kepada Allah dan kehendak-Nya. Kita masuk ke dunia tanpa dapat menikmati hidup rahmat bukanlah karena keputusan jahat kita (kita tidak dapat membuat keputusan jahat karena baru saja dikandung), tetapi karena dosa Adam-Hawa di awal sejarah manusia. Bagaimana pun dosa-asal merupakan suatu keadaan ditolak atau dijauhkan dari Allah. Meskipun dosa-asal sudah ‘dibuang’ ketika seseorang masuk ke dalam suatu keadaan rahmat, misalnya oleh baptisan, masih ada saja bayang-bayang “Tidak” dalam apa yang dinamakan concupiscentia (Inggris: concupiscence)Yang dimaksudkan di sini adalah suatu dualisme yang ada pada manusia yang menghalanginya dalam mewujudkan seluruh kehendaknya. Concupiscentia itu sendiri bukanlah dosa, melainkan akibat dari dosa dan membuat kita cenderung berdosa. Inilah tarikan spontan yang sering kita alami, tidak hanya ke arah kenikmatan sensual, melainkan juga ke arah hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah lainnya. Manusia secara wajar dan alamiah cenderung berpusatkan diri sendiri yang ujung-ujungnya dinamakan dosa. Maria bebas dari concupiscentia. Hal ini berarti, bahwa dalam menghadirkan dirinya di hadapan Allah dan mewujudkan kebebasannya Maria tidak terhalang dari dalam dirinya sendiri. Semua yang baru disebutkan tadi adalah hasil karya Roh Kudus dalam dirinya!

PEMBERITAHUAN TENTANG KELAHIRAN YESUS KEPADA PERAWAN MARIA

Kita lihat di atas bahwa tidak ada dosa-asal pada diri Maria, dengan demikian dia juga bebas dari concupiscentia. Bahkan bayang-bayang “Tidak” terhadap Allah dan kehendak-Nya juga tak nampak dalam dirinya. Sejak saat terkandungnya dalam rahim ibunya, yang ada hanyalah “Ya” terhadap Allah dan kehendak-Nya. Jadi ketika malaikat agung Gabriel menyampaikan “tawaran ilahi” kepada Maria, tawaran itu sebenarnya ditujukan kepada seorang makhluk ciptaan yang sepenuhnya hanya mengatakan “Ya” kepada Allah dan kehendak-Nya. Oleh karena itu Maria menanggapi “tawaran ilahi” dengan sepenuh hati, secara definitif, tanpa reserve dengan berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

Jawaban Maria ini membawanya kepada suatu relasi yang lebih dekat lagi dengan Roh Kudus. Sebab, sebelum itu telah dijelaskan oleh malaikat agung Gabriel kepadanya bagaimana jadinya martabat keibuannya sebagai bunda Yesus kelak: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35). Dia memberi persetujuannya untuk menjadi Bunda sang Penyelamat dengan menyetujui tindakan Roh Kudus atas dirinya. Dalam menyambut tindakan Roh Kudus tersebut dia menyambut sang Penyelamat ke dalam hati dan rahimnya. Dengan penuh kepatuhan Maria memberikan dirinya kepada tindakan Roh Kudus karena dia telah dipersiapkan dengan karya Roh Kudus sebelumnya: dikandung tanpa dosa. Sejak saat itu pun Maria sadar bahwa Anak yang dikandungnya itu adalah karunia Allah kepadanya dan kepada umat manusia melalui tindakan Roh Kudus. Betapa tergetar kiranya hati Maria penuh takzim, bahwa dia sedang bekerja sama dengan Roh Kudus dalam karya Allah terbesar dan teragung ini, yaitu inkarnasi sang Firman menjadi manusia (Yoh 1:14).

Datangnya Roh Kudus atas Maria bukanlah suatu peristiwa yang bersifat fana, karena dengan begitu Maria menjadi tempat kediaman Allah. Pada peristiwa pemberitahuan oleh malaikat agung Gabriel ini, Maria memasuki suatu relasi dengan Roh Kudus sehingga kita boleh menyapanya sebagai “Mempelai Allah Roh Kudus”. Suatu relasi seorang insan yang dikandung tanpa dosa dan murni, dengan Roh Kudus yang adalah Kasih itu sendiri. Suatu relasi antara karunia murni, yaitu Roh Kudus dan penerimaan total yang adalah Maria. Ini adalah relasi dengan Roh Kudus yang dijalaninya sepanjang hidupnya di atas bumi.

KUNJUNGAN MARIA KEPADA ELISABET

Injil Lukas mengatakan, bahwa beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda (Luk 1:39). Kita telah lihat dalam peristiwa pemberitahuan oleh malaikat agung Gabriel di atas bahwa Maria adalah pribadi yang sudah dipenuhi Roh Kudus. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Luk 1:41-42).  Elisabetpun tidak ragu-ragu untuk menyapa Maria sebagai “Ibu Tuhanku” (Luk 1:43). Di sini kita lihat bahwa peran Maria bersifat instrumental dalam kedatangan Roh Kudus ke dalam diri Elisabet dan putera yang dikandungnya, Yohanes Pembaptis. Ada suatu tradisi di tengah-tengah para Bapa Gereja yang awal, bahwa Santo Yohanes Pembaptis dimurnikan dari dosa-asal pada saat-saat pertemuan antara kedua perempuan itu.

Layak untuk kita catat, bahwa begitu Roh Kudus memenuhi diri Elisabet, dia mengenali martabat Maria sebagai Ibu Tuhannya, dan memuji-mujinya. Ini seyogianya merupakan bahan pemikiran dan permenungan bagi mereka yang menamakan diri Kristen namun masih saja menolak untuk mengakui dan menghormati secara istimewa Ibunda Yesus. Seperti Elisabet, siapa saja yang telah dipenuhi Roh Kudus – mau tidak mau – haruslah mengakui martabat Maria sebagai Ibu Tuhan dan memuji dia untuk privilese dan iman yang dimilikinya.

Pada waktu Maria dipuji oleh Elisabet, dia langsung melambungkan kidung Magnificat-nya yang sangat profetis, di mana dia bernubuat: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya ……” (bacalah keseluruhan kidung dalam Luk 1:46-55).

SAAT YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH

Roh Kudus disebut lagi sehubungan dengan Maria dalam peristiwa Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Di tempat kudus itu keluarga suci dari Nazaret ditemui oleh oleh seorang tua yang benar dan saleh, yang bernama Simeon. Roh Kudus telah menyatakan kepada Simeon ini, bahwa dia tidak akan mati sebelum dia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan (lihat Luk 2:26). Pada waktu menggendong kanak-kanak Yesus dia memuji-muji Allah sambil melambungkan “Kidung Simeon” yang terkenal itu. Simeon datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Akhirnya Simeon berkata kepada Maria: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35).

Simeon dibimbing Roh Kudus untuk bertemu dengan kanak-kanak Yesus yang sedang digendong oleh Maria. Dia bernubuat tentang masa depan Yesus dan bagian Maria dalam misteri paska. Adalah Roh Kudus yang menyatakan hal-hal ini kepada Maria melalui nubuat Simeon.

DI BAWAH KAKI SALIB DI KALVARI

Nubuat Simeon ini digenapi pada waktu penyaliban Kristus. Di Kalvari Maria berdiri di dekat salib Yesus dan dia ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus dalam arti sesungguhnya, detik demi detik. Ada sebilah pedang yang menembus jiwanya selagi dia berdiri di sana dan memandangi Dia yang lagi meregang nyawa pada kayu salib.  Sesudah Yesus meminum anggur asam, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh 19:25-30). Kata-kata Yesus ini mengandung dua arti. Arti harafiahnya adalah, bahwa Yesus menghembuskan nafasnya yang terakhir lalu mati. Namun arti teologisnya adalah, bahwa Yesus melakukan pelimpahan-awal Roh Kudus pada saat Dia wafat di kayu salib. Dalam hal ini kita harus mengacu pada kata-kata Yesus pada hari raya Pondok Daun, yang mengundang siapa saja yang haus untuk datang kepada-Nya dan minum. Yesus mengatakan, bahwa dari hati-Nya akan mengalir ke luar aliran-aliran air hidup. Penulis Injil Yohanes menafsirkan apa yang dikatakan Yesus:“Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan" (Yoh 7:37-39).

Yang dimaksudkan dengan “pemuliaan Yesus” di sini sesungguhnya adalah sengsara-wafat-kebangkitan-Nya. Dari atas kayu salib, pada saat wafat-Nya Yesus melimpahkan Roh Kudus. Penerima istimewa pelimpahan-awal dari Roh ini adalah Maria, bunda-Nya, yang paling banyak ambil bagian dalam sengsara-Nya, dengan demikian juga dalam kemuliaan-Nya.

PENTAKOSTA (PENCURAHAN ROH KUDUS)

Maria adalah salah seorang yang pergi ke “ruang atas” di Yerusalem dan berdoa bersama para rasul. Santo Lukas secara eksplisit menyebut namanya: Maria ibu Yesus! (Kis 1:14).  Maria ada bersama para murid pada waktu pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Bagi Maria, Roh Kudus yang turun atas para rasul mengembalikan kenangan-kenangan ketika dia menerima kabar dari malaikat agung Gabriel yang mengatakan: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Itu bukan déjà vu, tetapi penggenapan dari segalanya yang dimulai pada hari istimewa itu, ketika dia menyerahkan diri kepada tindakan Roh Kudus.

Tentunya sekarang Maria sangat bersukacita menyadari bahwa Roh Kudus telah datang untuk memenuhi dan mengabadikan semua yang dicapai oleh Kristus, Puteranya. Sekarang dia mengalami karunia agung dari Puteranya, yaitu Roh Kudus yang dicurahkan sebagai karunia untuk membuat Puteranya hidup dalam hati para murid dan di tengah umat manusia. Seperti ketika dia telah memelihara Kristus dalam rahimnya, maka sekarang Maria harus memelihara komunitas para murid dengan kehadirannya sebagai seorang ibu, dengan teladan-teladannya, kenangan-kenangannya dan kata-katanya. Semua ini dilakukan Maria sampai hari kematiannya.

MARIA DIANGKAT KE SURGA

Kematian bukanlah akhir bagi Maria, seperti juga halnya dengan Puteranya. Gereja mengajar bahwa setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat – tubuh dan jiwa – ke dalam kemuliaan surgawi. Dengan kata lain, seperti Puteranya Maria juga dibangkitkan dari kematiannya dan diangkat ke surga untuk ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. 

Karena kebangkitan Tuhan merupakan karya Bapa dan Putera melalui Roh Kudus (1Ptr 3:18; Rm 8:11), maka demikian pula halnya peristiwa diangkatnya Maria ke dalam kemuliaan surgawi dalam personalitas kemanusiaannya secara total. Dengan mengangkatnya ke surga, Roh Kudus memahkotai karya-Nya dalam diri Maria yang dimulai-Nya pada “perkandungan tanpa dosa” dan memuncak pada Inkarnasi Putera Allah. Diangkatnya Maria ke dalam kemuliaan surgawi merupakan masterpiece Tuhan Yesus Kristus dan Roh-Nya dalam menyatakan kekudusan Bapa surgawi.

Catatan Penutup

Hidup Maria tak terpisahkan dari karya Roh Kudus. Hidupnya tidak hanya dipenuhi Roh Kudus (Spirit-filled), tetapi juga dipimpin oleh Roh Kudus (Spirit-led). Kita pun harus meneladan dia; tidak hanya cukup dipenuhi dengan Roh Kudus, tetapi senantiasa dengan rendah hati memohon agar Roh Kudus selalu memimpin langkah-langkah kita dalam kehidupan ini. Syafaat Bunda Maria relevan dalam hal ini, dan dia masih mendoakan kita semua. Jangan lupakan Ibu kita ini! Banyak orang yang mengklaim diri dipenuhi Roh Allah, tetapi dengan sikap angkuh mengabaikan peranan dan keberadaan Bunda Allah dalam hidupnya. Itu adalah tanda kesombongon rohani yang secara bertahap akan membawa orang ke neraka, bukan ke surga! Memang kita sudah berada dalam proses pengudusan, namun kita hidup dalam dunia yang penuh dengan dosa dan kekuatan-kekuatan dosa dalam diri kita belum sepenuhnya punah. Oleh karena itu dalam perjuangan kita menuju kekudusan – seturut kehendak Allah sendiri – berpalinglah kepada Maria sang Mempelai Allah Roh Kudus.


F.X. Indrapradja, OFS (sangsabda.wordpress.com)