Showing posts with label IMAN KATOLIK. Show all posts
Showing posts with label IMAN KATOLIK. Show all posts

01 December 2014

MEDITASI UNTUK MINGGU ADVEN 1



MINGGU ADVEN I

Yesus mengatakan kepada para muridnya: “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! … Kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu datang.” (Markus 13:33)

O Yesus, suara-Mu lantang menembus ruang-ruang hidupku:
"Hati-hatilah dan berjaga-jagalah!"

Namun demikian, hampir-hampir tak pernah aku mendengarkan-Mu. Aku sibuk dengan berbagai macam hal, sibuk ini dan itu, seperti seorang hamba terperangkap dalam rutinitas sehari-hari, hampir tak pernah aku memikirkan apa makna hidupku. Rohku sudah lelah, dan Engkau ya Tuhan-ku, terasa amat jauh. Bagaimana aku dapat mendengarkan suara-Mu hari ini?

Berbicaralah kepada jiwaku selama masa rahmat ini, seperti Engkau berbicara kepada para nabi-Mu dan para kudus-Mu. Ingatkan aku kembali akan panggilan hidupku dan akan pekerjaan yang Engkau kehendaki aku lakukan. Aku ini hambamu, ya Tuhan. Berbicaralah kepadaku pada masa yang kudus ini dan arahkan mataku untuk menantikan kedatangan-Mu.

O Imanuel, Yesus Kristus,
kerinduan setiap bangsa, Juruselamat segenap umat manusia,
datang dan tinggallah di antara kami.

Sumber : “Meditations for Each Week of Advent” by Fr Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1996, 1997, 2000 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.




LINGKARAN ADVEN: LAMBANG DAN MAKNANYA

Oleh: P. Francis J. Peffley

Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang belum diketahui banyak orang.



Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih - masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat yang menyolok di gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi - santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.

Jadi, nanti jika kalian melihat atau memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Sumber : "The Symbolism of the Advent Wreath” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.

ASAL MULA MASA ADVEN

Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas Rasul (30 November). Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.



Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.

Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).

Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.

Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama: “Bapa di surga… tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya.

* By: P. William P. Saunders, pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

Sumber : “Straight Answers: The Celebration of Advent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.


02 May 2014

7 Kutipan Katolik Tentang Bunda Maria


"Kemuliaan Maria terletak di dalam fakta bahwa Ia ingin memuliakan Allah, bukan dirinya." 
(Paus Benediktus XVI)

"Maria akan membantu kita bila kita memanggil dia. Tidak ada jiwa yang tidak bahagia ataupun pendosa di dunia yang memanggil Maria, ditinggalkan tanpa kerahiman."
(Fulton J. Sheen)

"Biarlah mereka yang berpikir bahwa Gereja memberikan perhatian yang terlalu besar kepada Maria, memperhatikan bahwa Tuhan kit amemberikan sepuluh kali dari kehidupan-Nya kepada Maria seperti Ia memberikannya kepada Para Rasul."
(Fulton J. Sheen)

"Perawan yang mulia, engkau sungguh lebih besar daripada apapun. Jika aku berkata bahwa malaikat dan malaikat agung adalah besar - tetapi engkau lebih besar dari mereka, karena mereka hanya melayani Ia yang berdiam di rahimmu dengan gemetar, dan mereka tidak berani berbicara dalam kehadiran-Nya, sementara engkau berbicara dengan bebas kepada-Nya." 
(St. Athanasius of Alexandria)

"Aku juga memiliki kenangan akan devosi bulan Mei yang biasanya dilaksanakan setiap hari selama bulan Maria. Kami selalu suka pergi ke sana karena gereja didekorasi dengan hiasan pesta, dengan banyak bunga yang menambah keindagan santuary, tidak hanya secara visual tapi juga dengan keharuman yang indah. Kemudian koor gereja yang terdiri dari sekelompok anak-anak yang bernyanyi. Pada umumnya, Bunda Allah selalu bersama kami di dalam rumah kami. Di dapur rumah kami misalnya, gambar Kristus tergantung di sebelah kiri salib, dan di sisi sebelah kanan, gambar Maria. Rosario juga, seperti yang telah kusebutkan, didoakan hampir setiap hari di rumah kami. Hanya dalam bulan Rosario Suci, kami pergi ke gereja untuk berdoa Rosario."
(Mgr. Georg ratzinger, kak Paus Benediktus XVI)

"Perawan Maria yang terbekati adalah tokoh sentral dalam rencana keselamatan Allah. Ia memainkan peran yang besar, kedua setelah Putra-Nya, dalam karya penebusan dunia. Peran ini melibatkan ia dalam konflik berkelanjutan dengan setan. Di Fatima, Bunda kita memastikan bahwa kemenangan akhir menjadi miliknya: "Pada akhirnya Hati yang tak bernoda akan menang!"
(Fr. Andrew Apostoli, C.F.R)

"Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu."
(Bunda Maria)




18 April 2014

Novena Kerahiman Ilahi

Sembilan hari sebelum Pesta Kerahiman Ilahi, menurut wahyu Yesus kepada Santa Faustina harus didahului dengan Novena. Sebagian dari novena itu didiktekan langsung oleh Yesus dan dicatat oleh Santa Faustina. "Novena Kerahiman Ilahi yang diperintahkan Yesus supaya kutulis dan kulaksanakan sebelum Pesta Kerahiman Ilahi. Novena ini dimulai pada Jumat Agung."

Sabda Yesus kepada Santa Faustina, "Aku menghendaki agar selama sembilan hari engkau membawa jiwa-jiwa ke mata air kerahiman-Ku, supaya mereka menimba dari sana kekuatan dan kesegaran serta rahmat apapun yang mereka butuhkan dalam menghadapi kerasnya hidup, dan khususnya pada saat kematian. Setiap hari, hendaknya engkau mengantar sekelompok jiwa yang berbeda kepada Hati-Ku. Hendaknya engkau membenamkan mereka di dalam laut kerahiman-Ku dan Aku akan membawa semua jiwa ini masuk ke rumah Bapa-ku. Engkau akan melakukan ini dalam kehidupan ini dan dalam kehidupan yang akan datang. Aku tidak akan menolak apapun dari jiwa yang engkau bawa ke mata air kerahiman-Ku. demi kekuatan sengsara-Ku yang pedih, setiap hari hendaknya engkau minta kepada Bapa-Ku rahmat bagi jiwa-jiwa ini." (Buku Harian Faustina, 1209)

Pada tahun 2002 Paus Yohanes Paulus II mendedikasikan Hari Minggu Paskah II sebagai Pesta Kerahiman Ilahi. Dan tiga tahun kemudian pada tanggal 2 April 2005, Allah berkenan memberi beliau kehormatan besar untuk meninggal dunia tepat pada Hari Pesta Kerahiman Ilahi.

Kelompok orang yang dibawa selama Novena:
Hari 1 : Seluruh umat manusia khususnya orang-orang berdosa
Hari 2 : Para imam dan kaum religius
Hari 3 : Jiwa-jiwa yang saleh dan setia
Hari 4 : Orang-orang yang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Yesus
Hari 5 : Jiwa orang-orang sesat dan memisahkan diri dari Gereja
Hari 6 : Jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak
Hari 7 : Jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan Kerahiman Ilahi
Hari 8 : Jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Api Penyucian
Hari 9 : Jiwa-jiwa yang suam-suam kuku




21 May 2013

BULAN MARIA : Apa Dasar Ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa,

Akulah Yang Dikandung Tanpa Dosa"
"Que Soy Era Immaculada Conceptiou"
"I Am The Immaculate Conception"

Pesan Bunda Maria dalam penampakan pada St. Bernadette di Lourdes.

Sesungguhnya, kebingungan atas dogma Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa (Immaculate Conception) bukanlah hal yang jarang terjadi. Sebagian orang secara salah beranggapan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan Bunda Maria yang mengandung Kristus dari kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya, dogma Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang Mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).

Dalam mempelajari sejarah seputar keyakinan ini, kita melihat keindahan Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang para pengikutnya yang setia berjuang untuk memahami dengan lebih jelas misteri keselamatan. Perjuangan ini dibimbing oleh Roh Kudus, yang disebut Yesus sebagai “Roh Kebenaran”, yang “akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”dan “akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (bdk. Yoh 14:17, 14:26, 16:13).

Sebagian dari “perjuangan” atas dogma Immaculata adalah tidak adanya kutipan Kitab Suci yang spesifik serta jelas dan gamblang tentangnya. Namun demikian, referensi dalam Injil mengenai Bunda Maria dan perannya dalam misteri keselamatan mengisyaratkan keyakinan ini. Dalam Injil St. Lukas, kita mendapati ayat indah tentang Kabar Sukacita, di mana Malaikat Agung St. Gabriel mengatakan kepada Maria (dalam bahasa kita), “Salam Maria, penuh rahmat. Tuhan sertamu.” Sementara sebagian ahli Kitab Suci berdebat atas “seberapa penuhnya rahmat,” kesaksian St. Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. Apabila orang merenungkan peran Bunda Maria dalam kehidupan Kristus - baik inkarnasi-Nya, masa kanak-kanak-Nya, ataupun penyaliban-Nya - pastilah ia sungguh luar biasa dalam kekudusan, sungguh “penuh rahmat” dalam menerima serta menggenapi perannya sebagai Bunda Penebus, dalam arti “Bunda” yang sepenuh-penuhnya. Sebab itu, kita percaya, bahwa kekudusan yang luar biasa, yang penuh rahmat ini diperluas hingga saat awal permulaan kehidupannya, yaitu sejak saat ia dikandung.

Secara praktis, jika dosa asal diwariskan melalui orangtua, dan Yesus mengambil kodrat manusiawi kita dalam segala hal kecuali dosa, maka Maria haruslah bebas dari dosa asal. Pertanyaan kemudian muncul, “Bagaimana mungkin Kristus adalah Juruselamat Maria?” Sesungguhnya, banyak perdebatan mengenai SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam abad pertengahan berfokus pada masalah ini. Duns Scotus (wafat 1308) menawarkan satu solusi dengan mengatakan, “Maria lebih dari semua orang lain membutuhkan Kristus sebagai Penebusnya, sebab ia pastilah mewarisi Dosa Asal … jika rahmat sang Pengantara tidak mencegahnya.” Dengan mengutip Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Katekismus Gereja Katolik menambahkan, “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa', hanya terjadi berkat jasa Kristus: `Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul'. Pada pokoknya, karena Maria dipilih untuk berbagi secara intim dalam kehidupan Yesus sejak saat ia dikandung, Ia sungguh adalah Juruselamatnya sejak saat perkandungannya.

Mungkin salah satu alasan mengapa diskusi mengenai Dogma Immaculata ini berkepanjangan adalah karena Gereja Perdana dilarang dan di bawah aniaya hingga tahun 313, dan kemudian harus menyelesaikan berbagai macam masalah seputar Yesus Sendiri. Refleksi lebih jauh mengenai Bunda Maria serta perannya muncul setelah Konsili Efesus (thn 431) yang dengan segenap hati menegaskan keibuan ilahi Maria dan memberinya gelar, “Bunda Allah” sebab ia mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melahirkan Yesus yang adalah pribadi kedua dalam Tritunggal Mahakudus, yang sehakikat dengan Bapa. Beberapa Bapa Gereja Perdana, termasuk St. Ambrosius (wafat 397), St. Efrem(wafat 373), St. Andreas dari Crete (wafat 740) dan St. Yohanes Damaskus (wafat 749) merenungkan peran Maria sebagai Bunda, termasuk disposisinya yang penuh rahmat, dan menulis tentang ketakberdosaannya. Suatu pesta guna menghormati SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa telah dirayakan di Gereja Timur setidak-tidaknya sejak abad keenam.

Sementara waktu berlalu, dilakukanlah pembahasan lebih lanjut mengenai keyakinan ini. Pada tahun 1849, Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus, dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi. Dari 603 uskup, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 hanya menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah. Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia dimana kaum rasionalis sekolah filsafat telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi mengakibatkan gejolak sosial, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan. Maka, pada tanggal 8 Desember 1854, Pius IX menegaskan secara resmi dogma Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam bulla “Ineffabilis Deus”.

Akhirnya, menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan Bunda Maria, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) pada tahun 1531 di Guadalupe, Bunda Maria mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup…” Pada tahun 1830, Bunda Maria mengatakan kepada St. Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.” Terakhir, ketika menampakkan diri kepada St. Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

Dalam suatu homili pada Perayaan Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa yang disampaikan pada tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang memenuhi engkau, ya Perawan dari Nazaret, dengan segala rahmat rohani dalam Kristus. Dalam Dia, engkau dikandung tanpa noda dosa! Telah dipilih sejak semula untuk menjadi Bunda-Nya, engkau ditebus dalam Dia dan melalui Dia lebih dari segala manusia lainnya! Dilindungi dari warisan Dosa Asal, engkau dikandung dan datang ke dalam dunia dalam keadaan rahmat. Penuh rahmat! Kami mengagungkan misteri iman yang kami rayakan pada hari ini. Pada hari ini, bersama dengan segenap Gereja, kami memuliakan Penebusan yang dilaksanakan atasmu. Partisipasi yang teramat luar biasa dalam Penebusan dunia dan manusia, diperuntukkan hanya bagimu, semata-mata hanya bagimu. Salam O Maria, Alma Redemptoris Mater, Bunda Penebus yang terkasih.”


sumber : “Straight Answers: Immaculate Conception” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com

16 May 2013

BULAN MARIA : Tanya Jawab Seputar Devosi Maria


Seminar "Devosi kepada Maria", Paroki Gembala Yang Baik, 27 April 2003 bersama Rm. Pieter Sony, SVD  &  Rm. Remigius Sene, SVD

Devosi kepada orang kudus, apakah kita menyembah santo / santa?

Gereja membedakan antara penyembahan (Latria) yang hanya dibaktikan kepada Allah saja dan penghormatan (Dulia) yang dihaturkan kepada orang-orang kudus. Devosi kepada orang-orang kudus termasuk penghormatan dan bukan penyembahan.

Devosi kepada orang kudus, adakah dasar biblisnya?

Orang kudus sama seperti kita. Hanya saja, dalam perjuangan iman mereka telah setia dan mencapai kemenangan.

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (II Tim 4:7-8).

Kini, para kudus telah ada bersama Allah di surga:

“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.” (1 Kor 15:22-23)

Para kudus telah mencapai kemenangan dalam perjuangan iman dan sekarang mereka telah bersama Allah di surga. Kita yakin bahwa doa-doa mereka lebih didengarkan karena mereka telah menikmati hubungan akrab mesra dengan Tuhan. Bantuan dan dukungan doa mereka bagi kita tentulah sangat berguna. Jadi, kita mohon mereka untuk menjadi pendoa bagi kita.

Apakah peristiwa Rosario yang direnungkan pada hari-hari tertentu harus sesuai dengan yang telah ditetapkan?

Pada umumnya, Peristiwa Gembira kita renungkan pada hari Senin dan Sabtu, Peristiwa Cahaya pada hari Kamis, Peristiwa Sedih pada hari Selasa dan Jumat, dan Peristiwa Mulia pada hari Rabu dan Minggu. Tetapi, hal tersebut ditetapkan hanya sebagai pedoman umum. Artinya, peristiwa yang direnungkan tidak baku; kita bebas memilih peristiwa mana yang hendak kita renungkan atau kita anggap cocok untuk situasi tertentu. Misalnya saja, pada Masa Paskah kita cenderung merenungkan Peristiwa Mulia dan bukan Peristiwa Sedih. Contoh lain, pada saat seorang anggota keluarga meninggal, kita tidak akan merenungkan peristiwa gembira meskipun hari itu hari Senin, misalnya.

Berdoa Rosario tanpa menggunakan untaian Rosario, dapatkah dibenarkan?

Tidak masalah. Untaian Rosario merupakan sarana yang membantu kita dalam mendaraskan doa Rosario. Apabila tidak ada manik-manik Rosario, kita dapat menggunakan jari-jari kita untuk menghitung sepuluh Salam Maria. Adalah jauh lebih baik berdoa Rosario tanpa menggunakan untaian Rosario, daripada sama sekali tidak berdoa Rosario .

Pelantunan atau bahkan tertidur pada waktu berdoa Rosario, bagaimana mengatasinya?

Hal yang paling penting adalah niat dan usaha. Apabila pikiran kita menerawang atau bahkan kita tertidur saat berdoa Rosario, jangan berputus asa dan marah pada diri sendiri. Sebaliknya, bawa semua pelantunan dan kelemahanmu itu dalam doa.

Kadang-kadang Rosario digunakan sebagai kalung, ditempatkan dalam mobil, dll. Benarkah penggunaan seperti itu?

Tidak salah. Rosario sudah diberkati, jadi kehadirannya membantu meyakinkan pemakai/pemilik bahwa ia tidak berjalan sendiri melainkan bersama-Nya.

Berdoa Rosario selama perayaan Misa, dapatkah dibenarkan?

Ekaristi Kudus adalah doa yang paling agung dan tinggi tingkatnya; semua umat beriman diharapkan ambil bagian di dalamnya secara khidmat dan khusuk. Kiranya perhatian kita hanya tertuju pada perayaan Ekaristi Kudus saja. Tetapi, Romo menambahkan bahwa dalam kalangan generasi tua memang ada kebiasaan seperti itu, mengingat pada masa lalu Ekaristi dipersembahkan dalam bahasa Latin yang tidak dipahami umat, sehingga mereka mengisinya dengan berdoa rosario.

Sekali waktu Gereja Katolik masih merayakan Misa dengan lagu-lagu berbahasa Latin. Apa perlunya jika kita tidak mengerti artinya?

Gereja terdiri dari umat yang majemuk. Generasi tua rindu menikmati perayaan Misa dalam bahasa Latin. Menurut mereka bahasa Latin itu indah, agung, sakral serta membangkitkan nuansa religius. Sebaliknya, generasi muda lebih menyukai perayaan Misa dalam bahasa Indonesia karena bahasanya kita mengerti dan kita pahami. Mengingat kemajemukan dalam umat itulah, gereja mengambil kebijaksanaan untuk tidak menyeragamkan, malahan mengganggap segala bentuk inkulturasi sebagai kekayaan gereja.

Jika iman kita belum cukup kuat, sebaiknya tidak menempatkan patung-patung kudus di rumah karena dapat menjadi tempat tinggal roh halus. Benarkah?

Sama seperti kita menempatkan foto orang-orang yang kita kasihi di dompet, di meja, dinding, dll, kita menempatkan patung kudus di rumah sebagai sarana bagi kita untuk menghidupkan kembali kenangan akan tokoh-tokoh yang kita cintai. Patung dan barang-barang kudus dimintakan berkat imam agar kehadirannya sungguh menjadi sarana rahmat dan berkat.

Lebih lanjut, Romo Remi menegaskan bahwa bukan hanya patung, tetapi setan dapat menggunakan apa saja untuk menggoda manusia. Kita tidak perlu takut patung kudus yang kita tempatkan di rumah menjadi tempat tinggal setan; justru kita harus takut apabila penghuni rumahlah yang menjadi tempat tinggal setan. Artinya, kelakuannya bukannya membawa cinta kasih dan perdamaian, melainkan kekacauan dan perpecahan dalam keluarga.




08 May 2013

BULAN MARIA : Tahukah Anda Arti Doa Salam Maria?


Tak dapat dipungkiri bahwa doa Salam Maria  merupakan salah satu doa paling favorit dalam tradisi Gereja Katolik. Terlebih ketika doa ini dirangkai dalam untaian Doa Rosario suci. Tetapi mungkin karena kita mendoakan doa tersebut secara berulang-ulang dan hafalan sifatnya, bisa jadi kita kehilangan makna dari kedalaman dan keindahan doa yang kita utarakan kepada Maria, Sang Bunda Penebus. Maka tidak heran, karena masalah ini,  ada banyak umat Katolik yang menjadi bulan bulanan pertanyaan dari saudara kita non Katolik maupun yang beragama lain. Bahkan tidak jarang pula umat Katolik tidak mampu menjelaskan secara baik apa yang mereka cintai dan mereka imani dalam doa yang indah ini. 

Berikut penjabaran tentang makna yang terkandung dalam doa Salam maria yang terdiri dari dua bagian :
Bagian pertama berbunyi : “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus”. Kalimat ini menggabungkan salam yang diberikan oleh oleh malaikat Gabriel (Luk 1:28) dan salam Elisabet ketika Maria datang mengunjunginya (Luk 1:42). 
Salam malaikat Gabriel menjadi pembuka doa Salam Maria : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Melalui malaikat-Nya, Allah sendiri memberi salam kepada Maria dan menegaskan penyertaan-Nya bagi Maria. Melalui salam itu, mengalirlah rahmat Allah yang tak terbatas dalam diri Maria, itulah sebabnya Maria disebut “penuh rahmat” karena Allah ada besertanya. Dalam keadaan penuh rahmat Allah, Maria disucikan jiwa dan raga karena ia akan menjadi ‘kemah kediaman’ Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, ketika mengucapkan kata-kata salam malaikat ini, kita diajak untuk mengucapkan sapaan kita kepada Maria dengan penuh hormat dari hati yang tulus karena Allah sendiri telah meninggikan derajat Maria dari seorang perempuan biasa menjadi tempat bersemayam Sabda-Nya. 
Ketika Maria datang mengunjungi Elisabeth, ia menyapa Maria dengan kata-kata, “Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” Sapaan Elisabeth bukan berasal dari dirinya sendiri karena ketika mengucapkan salam itu, Elisabeth ada dalam keadaan dipenuhi oleh Roh Kudus (Luk 1:41). Pada saat mengucapkan kata-kata, “Terpujilah engkau diantara wanita ...” kita memuji karya Allah yang menjadikan Maria sebagai perempuan yang paling diberkati diantara segala semua perempuan yang ada di seluruh dunia karena dialah yang dipilih dan dipersiapkan secara khusus untuk mengandung Putra Allah dalam rahimnya. Maria dipilih menjadi ‘partner’ Allah dalam karya penyelamatan. Pada saat mengucapkan kata-kata “...dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.” kita memuji Allah yang telah menjelma menjadi manusia (Yesus) yang ada dalam rahim Maria. Patutlah kita mengucapkannya dengan penuh hormat dan syukur karena karya keselamatan manusia telah dimulai yang sekaligus menunjukkan kasih Allah yang luar biasa besar kepada kita manusia.
Bagian kedua dari doa Salam Maria berbunyi : “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati.” Kalimat ini berasal dari tradisi Gereja Katolik dan mempunyai dasar yang kuat dalam Injil.
Kita menyapa Maria sebagai ‘Santa’ yang artinya ‘orang yang dikuduskan’ dan sebagai ‘Bunda Allah’ karena Maria telah mengandung, melahirkan, mengasuh dan membesarkan Putra Allah. Karena Allah telah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, maka Maria juga menjadi Bunda dari semua manusia yang telah ditebus melalui karya keselamatan Yesus. Jadi, ucapkanlah kata-kata ini dengan penuh hormat, cinta dan syukur, karena Santa Maria, Bunda Allah, telah menjadi Bunda kita juga.
Bagi saya, bagian yang terindah dan paling mengharukan dari doa Salam Maria ada pada kata-kata terakhir ini, “... doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati.” Ucapkanlah dengan penuh kerendahan hati sebagai manusia berdosa yang mengharapkan pengampunan Allah melalui perantaraan doa Bunda-Nya. Ucapkanlah juga dengan penuh iman dan syukur karena kita mempunyai Bunda Maria yang selalu mendoakan kita (ingatlah Yesus tidak pernah menolak permintaan Bunda-Nya) mulai saat ini sampai pada saat kematian kita. Sama seperti Bunda Maria hadir di bawah kaki salib pada saat kematian Yesus, dia juga akan hadir pada saat kematian kita untuk mengantarkan jiwa kita kepada Yesus, Putranya.


Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu
Luk 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Terpujilah engkau diantara wanita
Luk 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.


Terpujilah buah tubuhmu YESUS
Luk 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia YESUS.


Santa Maria, Bunda Allah 
Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati
Yoh 2:3  Ketika mereka kekurangan anggur, ibu YESUS berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."
Yoh 2:4  Kata YESUS kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."
Yoh 2:5 Tetapi ibu YESUS berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"

07 May 2013

BULAN MARIA : Sejarah Doa Salam Maria

Doa Salam Maria merupakan salah satu doa tertua dalam tradisi Katolik, selain doa Bapa Kami. Doa ini juga merupakan salah satu doa favorit banyak umat Katolik selama berabad-abad dan telah banyak umat Katolik yang mengakui bahwa doa Salam Maria merupakan sumber rahmat rohani. 

Setiap orang beriman Kristiani yang bersedia mempelajari Kitab Suci secara utuh tentu akan dapat memahami peran Maria dalam proses penyelamatan manusia. Doa yang singkat dan sederhana terdiri dari dua bagian yang tidak terjadi seketika, tetapi membutuhkan waktu sekitar 15 abad untuk sampai pada bentuknya yang sekarang kita kenal dan doakan. 


Kalimat pertama doa Salam Maria diambil dari salam malaikat Gabriel yang diutus Allah untuk mengabarkan kelahiran Yesus. Kemudian ada bukti-bukti bahwa sekitar abad ke-6 umat kristen mulai mendaraskan salam malaikat itu sebagai penghormatan bagi ibu Yesus. Kata-kata itu berbunyi: "Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu". Kata-kata ini mirip bahkan sama artinya dengan salam malaikat dalam Injil Luk 1:28: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau". 

Jadi mulai waktu itu umat kristen sering berdoa: "Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu."

Enam abad kemudian, dalam abad ke-12, kata-kata dari Elisabet sewaktu mendapat kunjungan dari Maria ditambahkan ke dalam doa singkat itu. Kata-kata itu berbunyi "Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu." Ungkapan ini menterjemahkan seruan Elisabet: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu" (Luk.1:48). 

Maka sejak saat itu, kurang lebih 800 tahun yang lalu, umat kriten sering berdoa: "Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu. Amin." Kemudian ditambahkan lagi kata Yesus, menjadi ".....buah tubuhmu Yesus".

Jadi, dibutuhkan kurang lebih 12 abad untuk membentuk bagian pertama dari doa Salam Maria. Lalu kapan bagian kedua ditambahkan dalam doa Salam Maria? 

Dimulai pada abad ke-13, ada beberapa doa-doa pendek yang biasa ditambahkan. Di satu daerah umat berdoa: "... Santa Maria, doakanlah kami. Amin". Di tempat lain umat berdoa: "... Doakanlah kami yang berdosa ini. Amin". Dan beberapa variasi lain lagi. 

Doa selengkapnya baru diresmikan untuk seluruh Gereja oleh Paus Pius V pada tahun 1568. Bagian kedua tersebut berbunyi “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.” Sejak saat itulah umat katolik mendoakan doa Salam Maria secara utuh. 

Demikianlah sejarah singkat doa Salam Maria yang kita kenal. Ternyata sarat akan tradisi yang suci, diucapkan ribuan kali oleh jutaan orang beriman yang mendahului kita, yang mengungkapkan cinta mereka akan Bunda Maria dan melalui doa ini menaruh harapannya kepada Bunda sang Penebus yang menjadi perantara kepada Yesus, Putranya dan Tuhan kita. 



(source: www.imankatolik.or.id)